Jumat, 15 April 2011

Cireng Bandung

Berikut adalah resep membuat cireng
Bahan:
  • 100 g tepung kanji
  • 1 sdm tepung terigu
  • 75 ml air
  • ½ sdt merica bubuk
  • 1 sdt garam
  • 1 siung bawang putih, parut
  • 30 g kedelai putih, rendam hingga lunak, tiriskan
  • 1 batang daun bawang, iris halus
  • minyak goreng
Cara membuat:
  • Aduk tepung dengan air, merica, dan garam hingga rata.
  • Tambahkan bahan lainnya, aduk rata.
  • Goreng sesendok demi sesendok hingga kuning dan kering. Angkat dan tiriskan.
Sajikan
  • sajikan hangat dengan cabai rawit.
  • Untuk 10 buah
Itu adalah salah satu dasar pembuatan cireng. Untuk pembuatan sambal atau saos, serta pembuatan ragam isi, bisa disesuaikan dengan selera masing masing.

Belajar Bersama Mengkaji Puisi :))

Analisis Strata Norma Roman Ingarden

Untuk menganalisis puisi perlu kiranya untuk mengetahui apakah sesungguhnya (wujud) puisi itu. Dikemukakan oleh Rene Wellek (1968) bahwa puisi itu adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Setiap pengalaman individual itu sebenarnya hanya sebagian saja dapat melaksanakan puisi. Karena itu, puisi sesungguhnya harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Dalam bukunya yang berjudul Das Literarische Kunstwerk (1931), Rene Wellek menganalisis norma-norma itu sebagai berikut.
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi, suara itu bukan hanya suara tak berarti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun sebegitu rupa hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap artinya. Maka, lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti.
Lapis arti (units of meaning) berupa rangkian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia sipengarang yang berupa cerita atau lukisan.
Lapis ketiga selanjutnya dibagi dalam dua lapis norma, yakni lapis ‘dunia’ dan lapis ‘metafistis’. Lapis ‘dunia’ adalah cara pandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung didalamnya (implied). Lapis metafistis berupa sifat-sifat metafistis (yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni (puisi) dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembacanya. Akan tetapi, tidak setiap karya sastra (dalam hal ini puisi) terdapat lapis metafistis seperti itu.
Untuk lebih menjelaskan analisis strta norma tersebut dianalisis sajak Chairil Anwar (1959) sebagai berikut:

Belajar Bersama Mengkaji Puisi :)

Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Sebuah puisi dapat dikaji dengan beragam cara, dapat melalui struktur dan unsur-unsurnya, dapat melalui jenis-jenis atau ragam-ragamnya, dan dapat pula dikaji melalui sudut kesejarahannya. Sebelum mengkaji puisi lebih jauh, ada baiknya kita mengenal lebih mendalam arti atau devinisi puisi itu sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Wirjosoedarmo (1984), menurutnya puisi itu karangan yang terikat oleh: (1) banyak baris dalam tiap bait, (2) banyak kata dalam tiap baris, (3) banyak suku kata dalam tiap baris, (4) rima, dan (5) irama.

The Reason

Intro: D
D                      Bm
I’m not a perfect person
D
There are many things I wish I didn’t do
Bm
But I continue learning
G
I never meant to do those things to you
A
And so I have to say before I go
D
Reff 1: That I just want you to know
Bm
I’ve found a reason for me
A
To change who I used to be
A                        D
A reason to start over new and reason is you
Bm
I’m sorry that I hurt you
D
It’s something I must love with everyday
Bm
And all the pain I put you through
G
I wish that I could take it all away
A
And be the one who catches all your tears

D
Reff 2: That ’s why I need you to hear
Bm
I’ve found a reason for me
G
To change who I used to be
A                              C
A reason to start over new and the reason is you
D                               C
And the reason is you, and the reason is you
D
And the reason is you
Bm
I’m not a perfect person
G
I never meant to do those things to you
A
And so I have to say before I go

D
Reff 3: That I just want you to know
Bm
I’ve found a reason for me
G
To change who I used to be
A                         D
A reason to start over new and reason is you
Bm
I’ve found a reason to show
G
A side of me you didn’t know
A                             D
A reason for all that I do, and the reason is you

Selasa, 12 April 2011

Arti Sebuah Nama

Ada yang berpendapat "Apalah Arti Sebuah Nama " namun sesungguhnya ada suatu harapan yang diinginkan dari nama tersebut.
Begitu juga dengan nama yang saya gunakan Erasmus Gazelle adalah nama yang saya ambil dari bahasa latin yang memiliki arti cukup indah.

Erasmus, berarti mencintai.
Gazelle, berarti makhluk yang manis, menarik, dan luwes.

Mengapa saya menggukan nama ini....???
Awalnya saya bingung untuk menggunakan nama apa,,
Erasmus Gazelle saya gambarkan sebagai seseorang wanita yang memiliki paras manis serta menarik dan juga memiliki sifat menyayangi dan mengasihi sesamanya dan juga peduli terhadap segala yang ada disekitarnya,,
Berikut ada beberapa nama Latin A-E yang mungkin akan memberi inspirasi bagi Anda.