Jumat, 15 April 2011
Belajar Bersama Mengkaji Puisi :))
Untuk menganalisis puisi perlu kiranya untuk mengetahui apakah sesungguhnya (wujud) puisi itu. Dikemukakan oleh Rene Wellek (1968) bahwa puisi itu adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman. Setiap pengalaman individual itu sebenarnya hanya sebagian saja dapat melaksanakan puisi. Karena itu, puisi sesungguhnya harus dimengerti sebagai struktur norma-norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Dalam bukunya yang berjudul Das Literarische Kunstwerk (1931), Rene Wellek menganalisis norma-norma itu sebagai berikut.
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar itu ialah rangkian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Tetapi, suara itu bukan hanya suara tak berarti. Suara sesuai dengan konvensi bahasa, disusun sebegitu rupa hingga menimbulkan arti. Dengan adanya satuan-satuan suara itu orang menangkap artinya. Maka, lapis bunyi itu menjadi dasar timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti.
Lapis arti (units of meaning) berupa rangkian fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat. Semuanya itu merupakan satuan-satuan arti. Rangkian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, yaitu berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan, dan dunia sipengarang yang berupa cerita atau lukisan.
Lapis ketiga selanjutnya dibagi dalam dua lapis norma, yakni lapis ‘dunia’ dan lapis ‘metafistis’. Lapis ‘dunia’ adalah cara pandang dari titik pandang tertentu yang tak perlu dinyatakan, tetapi terkandung didalamnya (implied). Lapis metafistis berupa sifat-sifat metafistis (yang sublime, yang tragis, mengerikan atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat ini seni (puisi) dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembacanya. Akan tetapi, tidak setiap karya sastra (dalam hal ini puisi) terdapat lapis metafistis seperti itu.
Untuk lebih menjelaskan analisis strta norma tersebut dianalisis sajak Chairil Anwar (1959) sebagai berikut:
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri.
Perahu melancar, bulan memancar,
Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar,
Angin membatu, laut terang, tapi terasa
Aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang terang, di angin mendayu,
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau
Kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
Lapis suara
Dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, yaitu yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Misalnya dalam bait bertama ada asonansi a dan u, di baris kedua ada aliterasi s yang berturut-turut: gadis manis, sekarang iseng sendiri. Begitu juga dalam bait kedua ada asonasi a: melancar-memancar-sipacar-terang-terasa-padanya. Aliterasi l dan r: perahu melancar, bulan memancar, laut terang, tapi terasa. Pada umumnya dalam puisi itu bunyi-bunyi yang dominan adalah vocal bersuara berat a dan u, seperti kelihatan dalam bait ke-3 dan ke-4, yang dipergunakan sebagai lambing rasa (klanksymboliek).
Lapis Arti
Dalam bait pertama, ‘cintaku jauh di pulau’ berarti: kekasihku berada di pulau yang jauh. ‘gadis manis, sekarang iseng sendiri’: kekasih si aku masih gadis dan manis. Karena si aku tidak ada, ia berbuat iseng menghabiskan waktu sendirian. Dapat juga berarti bahwa si gadis dengan sangat menantikan si aku.
Dalam bait kedua, untuk menuju kekasihnya itu si aku naik perahu dengan lancar pada waktu terang bulan dan ia membawa buah tangan untuk pacarnya (ole-ole). Angin pun membantu (angin buritan), laut terang: tidak berkabut. Meskipun demikian, si aku merasa tidak akan sampai kepada pacarnya.
Bait ketiga, di air laut yang terang dan di angin yang bertiup kencang itu, menurut perasaannya secara sepenuhnya (diperasaan penghabisan) semuanya serba cepat, laju tanpa halangan, namun ajal telah member isyarat akan mengakhiri hidup si aku.
Bait keempat menunjukan bahwa si aku putus asa. Meskipun ia sudah bertahun-tahun berlayar sehingga perahu yang dinaikinya akan rapuh kena air garam, namun kematian telah menghadang dan mengakhiri hidupnya sebelum ia sempat bertemu, bercinta dengan kekasihnya.
Bait kelima, kekasih si aku yang berada di pulau yang jauh itu akan sia-sia menanti si aku dan mati menghabiskan waktu sendiri.
Lapis ‘dunia’
Dipandang dari sudut tertentu kekasih si aku itu menarik, kelihatan dari kata-kata: gadis manis (bait pertama). Pada bait kedua, baris ke satu dan kedua menyatakan suasana yang menyenangkan dan si aku penuh kegembiraan berlayar di laut yang terang pada waktu terang bulan. Baris keempat menyatakan kegelisahan-kegelisahan si aku yang merasa bahwa usahanya sia-sia. Dan baris kelima menyatakan kegagalan si aku untuk mencapai gadisnya meskipun segala daya upaya telah dilakukan sebab si aku sudah mati.
Lapis Metafistis
Dalam sajak ini lapis itu berupa ketragisan hidup manusia, yaitu meskipun segala usaha telah dilakukan, disertai sarana yang cukup, bahkan segalanya telah berjalan dengan lancar, tetapi manusia (sering kali) tak dapat mencapai apa yang diidam-idamkan karena maut telah lebih dahulu menghadang.
Analisis strata norma Roman Ingarden itu dapat dikatakan saja hanya menganalisis puisi secara formal saja, menganalisis fenomena-fenomena saja. Roman Ingarden tidak mengemukakan nilai seni puisi yang dianalisis. Dengan hal demikian itu, anlisis Roman Ingarden ini dikritik bahwa analisisnya yang maju itu menjadi berkurang nilainya karena tidak dihubungkan dengan peniliannya. Kritik lainnya adalah menganalisis dengan menggunakan norma Roman Ingarden hanya akan memecah-mecah satuan puisi, dan juga berakibat mengkosongkan makna karya sastra (T.S. Eliot via Sansom;1960). Karena itu, analisis strta norma harus ditingkatkan ke analisis semiotika, dalam artian karya sastra dipandang sebagai system tanda yang bermakna. Lebih lanjut analisis strta norma yang dihubungkan dengan semiotika dan fungsi estetik itu dapat dimuali dengan menganalisis bunyi dan kata.
Unsur bunyi: Orkestrasi bunyi (efoni dan kakofoni, kombinasi vocal dan konsonan tertentu, aliterasi dan asonansi), Simbol bunyi (onomatope, kiasan suara, lambing rasa), Sajak (awal, tengah, dalam, dan akhir), dan Irama (metrum dan ritme).
Unsur kata: kosa kata, aspek ketatabahasaan, masalah denotative dan konotatif, diksi (pilihan kata), bahasa kiasan, citraan, sarana retorika, dan gaya kalimat.
**
*Tulisan pendek ini adalah sebentuk rangkuman dari buku Racmat Djoko Pradopo yang berjudul Pengkajian Puisi yang diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar